Annual Meeting Penelitian Peer Health Tahun ke-3
(Yogyakarta – 08/12/2018) Leptospirosis termasuk jenis penyakit zoonotic yang terabaikan di Indonesia, meski begitu peningkatan kasusnya cukup mengkhawatirkan Sejumlah wabah leptospirosis terjadi di beberapa daerah di Indonesia selama 2004-hingga kini dengan tingkat kematian mencapai 35%. Berdasarkan data dari Sub-direktorat Zoonosis, P2TVZ Kementerian Kesehatan, pada tahun 2017 di Indonesia dilaporkan 908 kasus leptospirosis dengan kematian 136 orang (CFR 14,98%). Diagnosis dan konfirmasi laboratorium leptospirosis sulit ditegakkan karena keterbatasan didalam kemampuan pemeriksaan laboratorium. Mis-diagnosis dan under-diagnosis masih sering terjadi karena gejala leptospirosis sangat bervariasi seperti flu-like syndrome, demam dengue dan malaria.
PEER Health project dari USAID telah memberikan hibah penelitian kepada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga dengan mendukung 3 (tiga) tahun penelitian terkait pengembangan Rapid Detection Test (RDT) berbasis antigen (antigen capture) dengan judul penelitian “Development of an antigen-capture immunoassay for the rapid diagnosis of leptospirosis,” berkolaborasi dengan RS. Kariadi Semarang dan University of Nevada Reno, US.
Dalam rangka melaporkan hasil capaian penelitian Peer Health tahun ketiga B2P2VRP ini telah melakukan diseminasi yang bertujuan untuk memberikan gambaran capaian penelitian peer health hingga tahun ke-3 (2018), memperoleh informasi terkini tentang antigen based detection dan membangun koordinasi dan kolaborasi lintas sectoral antara team penelitian dengan stakeholder.
Kegiatan diseminasi bertajuk “Annual Meeting Penelitian Peer Health Tahun ke-3 dan jejaring laboratorium zoonosis” berlangsung dari tanggal 06 – 08 Desember 2018 di Swiss-bel Hotel Yogjakarta, turut dihadiri perwakilan dari mitra institusi maupun stakeholder terkait seperti Sub Direktorat Zoonosis dan Sub Direktorat Penyakit Infeksi Emerging dari Dirjen P2P Kemenkes, Direktur Kesehatan Hewan dan Balai Besar Penelitian Veteriner dari Kementerian Pertanian, Komisi MTA dan Ilmiah Balitbangkes, Laboratorium Kesehatan Militer, Collaborator dan konsultan peer health, USAID, Indohun/One Health, Innarespon, WHO, FAO, RSUP Kariadi Semarang, RSUD Sunan, Kalijaga Demak, Peneliti Pusat 1, Universitas Diponegoro dan Gajahmada, BBTKL, turut mengundang juga sebagai narasumber Dr. David P. Aucoin (University of Nevada Reno, US) dan Dr. Ahmed (VU University Medical Center, Amsterdam).
Dalam laporannya Kepala B2P2VRP Joko Waluyo, ST, MSc.PH menjelaskan bahwa Penelitian sudah berjalan dengan baik meskipun ada beberapa kendala administrasi dihadapi, diantaranya hingga kini belum terbitnya dokumen Material Transfer Agreement (MTA) akan tetapi banyak sekali temuan yang sdh di dapatkan terutama di laboratorium dalam mendeteksi antigen di dalam berbagai jenis specimen dalam deteksi leptospira patogenik, sehingga diharapkan penelitian ini bisa dimanfaatkan untuk pengelola program, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Kab/Kota dalam mengkonfirmasi leptospirosis secara dini dengan pemeriksaan bakteri leptospira baik pada manusia maupun hewan, baik dari sample darah urin dan ginjal tikus.
Hal ini sejalan dengan sambutan dari Kepala Badan Litbangkes dr. Siswanto, MPH., DTM bahwa 2/3 dari penyakit new emerging merupakan penyakit tular vector dan zoonosis, sehingga perlu dikembangkan velocity Point of care berupa rapid test yang bisa digunakan secara cepat oleh Dinas Kesehahtan yang ada di lapangan dan penelitian ini tentunya terkait dengan itu. Fakta di lapangan menyebutkan bahwa di Indonesia banyak terjadi kesalahan deteksi penyakit panas dan dokter cenderung di dasarkan oleh factor musiman, banyak ditemukan agen lain oleh klinisi diantaranya adalah leptospirosis, hanta dll. Point nya adalah pengembangan rapidtest berbasis antigen akan sangat penting terutama untuk para klinisi dan surveilant di lapangan sehingga deteksi menjadi tepat. Badan Litbangkes sangat support dengan penelitian ini, semoga dalam waktu bisa diperoleh hasilnya sehingga bisa menguatkan system surveillance dan alat diagnosis pada level point of care.
Sedangkan dalam paparannya Farida D. Handayani, S.Si, selaku MS Principal investigator dari penelitian ini menyampaikan Goals dari penelitian ini adalah untuk mengembangakan alat yg smart, cepat, efektif dan murah untuk immonassay diagnosis pada point of care leptospirosis. Akan dikembangkan suatu immunoassay yang dapat mendeteksi antigen di dalam urin. Karena tes cepat yg ada sekarang berdasarkan antibody dan dari segi waktu sangatlah terlambat. Sedangkan Outcome untuk meningkatkan kemampuan diagnosis leptospirosis dan berkontribusi secara nasional untuk preventif penenggulangan leptospirosis. (igoe)